Biogas Dari Sampah Makanan

OLEH : LINA P. NIDYA

Sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk, jumlah timbulan atau produksi sampah di lingkungan perkotaan terus meningkat. Umumnya, sampah kota didominasi oleh sampah organik dengan komposisinya berkisar antara 55-70 persen. Sampah organik perkotaan memiliki potensi yang besar untuk menjadi sumber energi.

Pemanfaatan bioenergi sebagai sumber energi alternatif khususnya biogas di Indonesia merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi ketergantungan terhadap gas elpiji yang harganya mahal dan keberadaannya yang langka di masyarakat. Selain itu, biogas juga bisa menghasilkan energi listrik yang cukup besar. Pengembangan biogas di Tempat Pembuangan Akhir Sampah merupakan suatu langkah untuk mengurangi jumlah sampah, khususnya sampah organik sudah banyak diterapkan di berbagai daerah.

Biogas Dari Sampah Makanan

Pemerintah Kota Probolinggo bekerja sama dengan Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berupaya agar masyarakat dapat dilibatkan secara langsung untuk mengelola sampah organik rumah tangga dengan peralatan sederhana berupa Digester Anaerobik dengan sistem floating. Dari alat tersebut dihasilkan biogas dan pupuk cair, biogas dari digester dapat digunakan untuk memasak (pengganti LPG) oleh setiap rumah tangga, sedangkan pupuk cairnya dapat digunakan untuk memupuk tanaman di kebun rumah tangga. Adapun peralatan dan bahan yang digunakan untuk membuat Food Digester adalah sebagai berikut:

PERALATAN

  1. 2 Buah tangki dari fiber berukuran 1000 liter dan 800 liter
  2. Blender makanan.
  3. Timbangan.
  4. Ember.
  5. Gas analizer (GA 2000)

BAHAN

  1. Sampah makanan (dapur)
  2. Kotoran sapi/rumen sapi untuk start up

CARA PEMBUATAN
Tangki fiber 1000 liter dan 800 liter dipotong bagian atasnya kemudian diletakan seperti pada gambar. Tangki fiber yang dibawah diberi sambungan paralon keatas yang berfungsi sebagai inlet, sedangkan tangki yang diatas diberi sambungan untuk menyalurkan gas yang terbentuk ke tempat penampungan gas (plastic yang rangkap) agar tidak bocor. Dari gas holder plastic dapat dipasang pipa yang tersambung dengan kompor gas.

A. START UP
Sebelum dipergunakan, food digester perlu dikondisikan terlebih dahulu dengan menumbuhkan bakteri metana di dalam digester. Tahap ini disebut tahap start up. Tata cara start up adalah sebagai berikut:

  1. Start up dilakukan dengan pengisian kotoran isi rumen/kotoran sapi 50 kg. Kotoran sapi tersebut diencerkan dengan air sebanyak 50 liter sampai berbentuk bubur. Hancurkan kotoran sapi yang menggumpal. Buang rumput atau yang sejenis dengannya.
  2. Setelah itu tambahkan air ke dalam digester hingga penuh.
  3. Taruh gas holder ke dalam tanki digester. Buka kran gas holder hingga gas holder tenggelam separuhnya. Cek kebocoran gas holder dengan air sabun. Jika terjadi kebocoran, dilakukan penutupan dengan cara pemberian seal.
  4. Start up dilakukan selama 30 hari (sampai terbentuk biogas yang dapat dinyalakan, dengan tes api).
  5. Setelah start up, digester setiap hari diisi dengan kotoran sapi sebanyak 2 kg yang diencerkan dengan air sebanyak 10 liter selama 12 hari untuk pemeliharaan kondisi yang telah dicapai.

B. FEEDING
Feeding atau pemberian makanan merupakan suatu proses memblender sampah organic seberat 1,5 – 2 Kg yang diencerkan dengan air sebanyak 10liter kemudian dimasukkan ke dalam digester dan dilakukan setiap hari. Gas sudah dihasilkan dan nyala apinya biru. Dari profil tersebut dapat dilihat bahwa produksi gas sampah makanan adalah sebagai berikut :

  1. Kandungan gas metana setelah start up dan dimaintenance dengan feedstock kotoran sapi komposisinya di atas 40% Kualitas biogasnya sangat baik.
  2. Produksi gas spesifik gas dari sampah makanan 264,4 liter/kg
  3. Dengan demikian dari 2 kg sampah makakan akan dihasilkan sekitar 200 liter biogas yang dapat digunakan untuk memasak selama 45 menit.

Biogas Dari Sampah Makanan

KOMPARASI PEMBIAYAAN
Secara ekonomi penggunaan biogas dari sampah makanan dapat menghemat pemakaian LPG. Berikut adalaha karakteristik biayanya:

  1. Biaya awal pengadaan kompor dan tabung LPG sekitar Rp. 1.000.000
  2. Biaya awal pengadaan kompor dan food digester Rp. 2.000.000
  3. Biaya operasi food digester Rp. 0 (karena inputnya sampah makanan)
  4. Biaya operasi kompor LPG Rp. 6.000.
  5. Biogas dari food digester dapat menggantikan sampai 50% LPG di rumah tangga.

MANFAAT LINGKUNGAN

  1. Penggunaan food digester skala rumah tangga perkotaan dapat mengurangi penggunaan LPG 100 kg atau 250 liter minyak tanah yang ekuivalen dengan 300-600 kg CO2/ tahun.
  2. Untuk rumah tangga perdesaan mengurangi 3 ton kayu per tahun yang akan menghasilkan 5 ton CO2 kalau dibakar.
  3. Metana terbakar dengan warna biru tanpa menghasilkan asap yang banyak. Berbeda dengan bahan bakar kayu.
  4. Efluen dari digester dapat digunakan sebagai pupuk cair.