Dibalik Usaha Urup-Urup

OLEH : LINA P. NIDYA

Meningkatnya produksi sampah saat ini seiring dengan meningkatnya pertumbuhan manusia dan perubahan gaya hidup, yang cenderung serba cepat sehingga berkembanglah produk – produk instan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dari produk-produk instan tersebut hasil sampingnya adalah sampah anorganik yang semakin meningkat.

Sampah apapun jenisnya selalu menjadi momok permasalahan, sampah dibuang seperti tidak ada nilainya. Tak banyak orang yang mengetahui kalau sampah tersebut khususnya sampah anorganik dapat didaur ulang dan mendatangkan rupiah, serta dapat menjadi peluang usaha yang cukup menyerap tenaga kerja. Usaha tersebut biasa disebut sebagai usaha “Rongsokan” atau usaha “Urup-urup” bila di Probolinggo atau biasa dikenal dengan “Rombeng” bila di daerah lain. Bahkan tak sedikit dari usaha Urup-urup yang sukses menjadi pengusaha dengan omzet per bulan hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Adapun sampah atau barang rongsokan yang dapat di urup-urupkan yaitu sampah anorganik yang mengandung jenis seperti :

  • Plastik (berbagai macam gelas dan botol plastik, peralatan rumah tangga, refill/kemasan, mainan, dll)
  • Logam (peralatan rumah tangga, kaleng, seng, besi, alumunium dll)
  • Kertas (Koran, majalah, kardus, HVS, sak semen dll)
  • Karet (ban, sol sepatu, sandal jepit dll)
  • Kain (limbah dari penjahit)
  • Barang elektronik (kipas angin, komputer, TV, HP, mesin cuci dll)
  • Kaca (botol-botol kaca ataupun barang-barang lain yang terbuat dari kaca)
  • Accu, berbagai jenis bateray
  • Spare part kendaraan atau mesin – mesin yang lain.
  • Dan Lain-lain

Usaha urup-urup selama ini dipandang sebelah mata karena kesannya yang kotor dan kumuh, namun ternyata dari usaha tersebut mempunyai peran yang cukup penting dan tidak bisa diabaikan yaitu:

  • Menyerap tenaga kerja untuk pengumpulan dan pemilahannya
  • Meningkatkan pendapatan masyarakat
  • Mengurangi sampah yang masuk ke TPA
  • Mengurangi sampah yang dibakar maupun dibuang sembarangan
  • Menciptakan lingkungan yang bersih

Hal tersebut sesuai dengan hasil survey yang pernah dilakukan UPT Pengelolaan Sampah dan Limbah pada tahun 2013 yang lalu. Sampah dan barang bekas dari rumah tangga atau dari sumber yang lain biasanya diambil oleh para pemulung atau langsung ke urup-urup, dengan hasil perolehan pemulung sekitar 0,5 – 1 ton/bulan, sedangkan perolehan urup-urup antara 1-2 ton/bulan. Selanjutnya dari para pemulung ataupun urup-urup disetorkan ke pengepul urup-urup dengan hasil perolehan mencapai 5 – 8 ton/bulan bahkan ada beberapa pengepul sampah jenis tertentu bisa mencapai 10 ton/bulan.

Dari hasil perolehan data diketahui bahwa di seluruh kecamatan Kota Probolinggo terdapat 302 pemulung, 42 urup-urup dan 47 pengepul. Jumlah tersebut bisa jadi lebih kecil dari jumlah yang sebenarnya di lapangan mengingat masih ada yang belum terdata di tiap-tiap kelurahan. Meskipun masih belum semuanya terdata namun dari jumlah 391 usaha Urup-urup tersebut sudah signifikan dengan upaya pengurangan sampah yang masuk ke TPA yaitu sebesar 5.316 ton/tahun atau telah mereduksi sampah kota sebesar 8,7%.

Prospek dari usaha urup-urup memang cukup menjanjikan, dengan sampah yang mengandung unsur plastik, kertas dan logam selalu dinanti oleh industri – industri yang memerlukan bahan baku tersebut untuk didaur ulang.

Dibalik Usaha Urup-Urup

Dibalik usaha Urup-urup yang cukup menguntungkan, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan kesehatan pekerja dan keselamatan lingkungan. Barang-barang yang dikumpulkan awalnya berupa sampah atau barang bekas sehingga memang banyak yang kotor, hal tersebut menimbulkan permasalah diantaranya :

  • Penempatan yang kurang rapi menyebabkan bersarangnya vektor penyakit seperti tikus, lalat, kecoa dan menimbulkan bau.
  • Insiden penyakit demam berdarah dengue meningkat karena vector penyakit hidup dan berkembangbiak dalam sampah kaleng bekas atau genangan air.
  • Partikel debu yang berterbangan akan mengganggu pernafasan, menimbulkan pencemaran udara.

Bahkan beberapa dari jenis sampah B3 (Bahan Berbahaya Beracun ) biasanya juga turut serta dikumpulkan. Sampah B3 tersebut mereka peroleh dari kawasan permukiman, perkantoran, indusri maupun dari kegiatan pelayanan kesehatan. Sampah B3 yang biasa ditemukan di lapak urup-urup antara lain:

  • Semua jenis Accu dan baterai bekas seperti baterai remote, mainan, jam tangan, telepon seluler, kamera digital maupun baterai yang bisa dicharge (rechargeable).
  • Berbagai wadah/ tempat bekas dari cat, oli, tinta, pestisida dan bahan-bahan kimia.
  • Sampah medis contohnya spet suntik, selang, botol infus dll

Dampak yang dapat terjadi akibat dari dikumpulkannya jenis sampah B3 yaitu Kandungan logam berat dan zat-zat berbahaya yang terdapat di dalam accu danbaterai seperti logam berat merkuri, mangan, timbal, nikel, lithium, dan kadmium akan mencemari air dan tanah. Dampaknya dari lingkungan yang tercemar logam berat dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan ginjal, dan juga dapat menyebabkan tulang lunak (osteomalasia) atau kecacatan tulang berat. Sampah medis bersifat infeksius, korosif(senyawa-senyawa kimia serta logam berat seperti Hg, Pb dan Cd yang berasal dari bagian kedokteran gigi) dan dapat menyebarkan bakteri ataupun virus penyakit. Sehingga semua sampah medis harus dibakar di dalam incenerator dan dilarang untuk diperjual belikan.

Dibalik Usaha Urup-Urup

Sedemikian berbahayanya dampak yang dapat terjadi apabila pelaku usaha urup-urup tidak mengetahui jenis-jenis sampah atau barang bekas yang dikumpulkannya. Agar terhindar dari dampak lingkungandan kesehatan perlu diperhatikan cara penyimpanan dan penempatan barang urup-urup sebaiknya :

  • Tempat penyimpanan beratap agar barang-barang dari kertas danlogam tidak terkena hujan sehingga dapat rusak dan berkarat.
  • Lantai tempat penyimpanan dirabat atau dialasi sesek supaya bila hujan tidak terjadi genangan atau tampungan air hujan dapat menjadi celah berkembangnya vektor penyebab demam berdarah.
  • Sirkulasi udara cukup di tempat penyimpanan
  • Barang-barang dipilah dan disimpan sesuai jenisnya
  • Barang-barang dimasukkan dalam karung dan diletakkan dengan rapi
  • Pekerja menggunakan Alat Pelindung Diri seperti sarung tangan, masker dan sepatu boot.