Penting Gak Bioassessment

OLEH : STAF UPT. LAB

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk kehidupan, pemanfaatan air utnuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan generasi sekarang dan generasi mendatang. Pelestarian sumberdaya air harus mendapat perhatian secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek-aspek pendukung kelestarian sumberdaya perairan. Peran air sangat penting bagi kehidupan. Seluruh komponen dalam jaringan tubuh suatu organisme sangat tergantung dengan air. Dalam proses metabolisme, sistem jaringan semua memerlukan air. Melihat sedemikian pentingnya air dalam kehidupan, kita perlu lebih bijaksana dalam pemanfaatan air.

Permasalahan utama yang mengancam kehidupan adalah tercemarnya air sungai. Pembuangan bahan kimia, limbah maupun pencemar lainnya ke dalam air sungai akan mempengaruhi kehidupan di dalam ekosistem perairan tersebut. Pencemaran air sungai merupakan masalah lingkungan utama, tidak hanya di Kota Probolinggo namun di banyak kota di dunia terutama yang ada di negara berkembang. Adanya pembuangan sampah, limbah domestik ke sungai dan masih banyak aktivitas keseharian masyarakat yang dilakukan di sungai diantaranya BAB, mandi, mencuci dan lain sebagainya masih jamak terjadi di Kota Probolinggo.

Pemantauan kualitas air sungai penting dilakukan, karena akan berhubungan kelayakan dan baku mutu air. Tujuan pemantauan kualitas air sungai adalah :

  • Mengetahui nilai kualitas air dalam bentuk parameter fisika, kimia dan biologi.
  • Membandingkan nilai kualitas air tersebut dengan baku mutu sesuai dengan peruntukannya.
  • Menilai kelayakan suatu sumber daya air untuk kepentingan tertentu.

Pemerintah Kota Probolinggo melalui Badan Lingkungan Hidup secara rutin melakukan pemantauan kualitas air sungai di Kota Probolinggo setiap tahunnya yaitu untuk sungai Legundi, Umbul, Kasbah, Kedunggaleng, Banger dan Borang.
Untuk memantau pencemaran air sungai digunakan kombinasi parameter fisika, kimia dan biologi. Tapi selama ini, pemantauan hanya menggunakan parameter fisika seperti temperatur, warna, bau, rasa dan kekeruhan air. Atau pun parameter kimia seperti partikel terlarut (DO), kebutuhan oksigen biokimia (BOD), partikel tersuspensi (TSS), Amonia (NH3) dan lain sebagainya. Sedangkan untuk parameter biologi masih jarang digunakan.

Bioassessment merupakan pemantauan terhadap kualitas suatu perairan secara biologi yaitu dengan menggunakan mahluk hidup yang tinggal pada ekosistem perairan tersebut sebagai indikator. Indikator / Parameter Biologi juga sangat penting sebagai parameter penentu pencemaran. Pengukuran menggunakan parameter fisika dan kimia hanya memberikan gambaran kualitas lingkungan perairan sesaat dan cenderung memberikan hasil dengan interprestasi dalam kisaran luas. Sedangkan Indikator biologi dapat memantau secara kontinyu. Hal ini karena komunitas biota perairan (flora/fauna) menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan tersebut, sehingga bila terjadi pencemaran akan bersifat akumulasi atau penimbunan dan dapat mempengaruhi perubahan struktur dan fungsi ekosistem sungai, baik hewan maupun tumbuhan. Karena adanya pencemaran lingkungan maka keanekaragaman spesies akan menurun dan mata rantai makanannya menjadi lebih sederhana. Di samping itu, indikator biologis merupakan petunjuk yang mudah dan murah untuk memantau terjadinya pencemaran.

Penting Gak Bioassessment

Setiap spesies mempunyai batas antara toleransi terhadap suatu faktor yang ada di lingkungan teori toleransi Shelford. Perbedaan batas toleransi antara dua jenis populasi terhadap faktor-faktor lingkungan mempengaruhi kemampuan berkompetisi, jika sebagai akibat suatu pencemaran limbah industri terhadap suatu lingkungan adalah berupa penurunan atau berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air, maka spesies yang mempunyai toleransi terhadap kondisi tersebut akan meningkat populasinya karena spesies kompetisinya berkurang.

Banyaknya bahan pencemaran dalam perairan akan mengurangi spesies yang ada dan pada umumnya akan meningkatkan populasi jenis yang tahan terhadap kondisi perairan tersebut. Sehingga indikator biologi juga penting untuk digunakan untuk menilai secara makro perubahan keseimbangan ekologi, khususnya ekosistem akibat pengaruh limbah. Contohnya pada suatu kawasan pertanian (persawahan), penggunaan pestisida dan insektisida akan menurunkan populasi hewan yang termasuk golongan insekta serangga baik di darat dan di air.

Kondisi ini akan menghambat siklus rantai makanan, dimana si pemakan serangga akan menurun jumlahnya. Ketika rantai makanan terhambat maka keseimbangan akan bergeser. Spesies yang dapat bertahan hidup pada lingkungan terpopulasi, akan menderita stress fisiologi yang dapat digunakan sebagai indikator biologi.

Hewan makro invertebrata untuk indikator biologis pencemaran organik pada beberapa tingkat stadium dibagi atas:

  • Indikator air bersih: Ephemera, Ecdyonurus, Leuctra, Nemurella dan Perla.
  • Indikator pencemaran ringan : Amphinemura, Ephemerella, Ceanis, Gammarus, Beatis, Valvata, Bhytynia, Hydropsyche, Limnodrius, Rhyacophyla dan Sericostoma.
  • Indikator pencemaran sedang : Asellus, Sialis, Limneae, Physa dan Sphaerium
  • Indikator pencemaran berat : Nais, Chironomous, Tubifex, dan Eristalis

Apa yang dapat disimpulkan adalah bahwa penambahan bahan kimia, pembuangan limbah baik industri, rumah tangga ke dalam air sungai, dan pembuangan sampah, dll akan mempengaruhi kehidupan ekosistem biota dalam perairan sungai. Ukuran yang dipakai untuk melihat seberapa besar pencemaran yang terjadi umumnya menggunakan pengujian secara kimia dan fisika, dimana ada standart baku yang harus dipenuhi sesuai dengan peraturan hukum yang sudah ditetapkan. Dan ketika suatu hasil pengujian tidak bisa memenuhi standart yang ditentukan maka dapat dinyatakan perairan tersebut dalam keadaan tercemar. Kekurangan dari pengujian secara kimia dan fisika ini adalah dapat dikondisikannya lingkungan perairan tempat pengujian dalam hal ini adalah lokasi yang dekat dengan saluran pembuangan air limbah kegiatan industri, agar mendapatkan hasil uji yang masih memenuhi standart bakunya. Sehingga masih dimungkinkan adanya penyelewengan terhadap pemantauan / pengujian kualitas suatu perairan.

Maka dari itu sangatlah penting agar pemantauan air sungai juga menggunakan indikator biologi untuk pemantauan pencemaran air sungai, yaitu dilihat dari organisme yang hidup dalam perairan yang tercemar, karena pencemaran dalam air dapat meracuni organisme yang hidup dalam ekosistem perairan. Yang diamati adalah hewan makroinvertebrata yang hidup di dalam sungai karena dapat diamati dengan mata telanjang dan dengan bantuan loop. Memantau pencemaran air menggunakan indikator biologis lebih mudah dan dapat menjelaskan pengaruh fisika dan kimia dalam memantau pencemaran yang terjadi di air sungai.